KURASI, KURATOR DAN KURATORIAL (Curation, Curator and Curatorial)
KURASI, KURATOR DAN KURATORIAL (Curation, Curator and Curatorial)
Secara menyeluruh tugas kurator adalah memberi jasa perencanaan dan pelaksanaan suatu pameran seni rupa-pembuatan buku, yaitu selain praktek pameran – pemilihan karya untuk dipamerkan, bukukan, dan lain yang menyangkut kehadiran karya seni pada masyarakat (yang dituju).
Ia membangun wacana representasi seni karya yang dipamer/bukukan. Dasar-dasar kurasi inilah yang nantinya dapat mencerminkan kondisi situasi, visi dan misi serta citra yang dibangun dalam pameran-penerbitan.
Dalam sebuah pameran, kerja kurator dimulai dari persiapan, menentukan tema kegiatan, memilih karya yang dipamerkan, bagaimana menyusun karya tersebut, bagaimana kemasannya, cara penyajian, dimana diadakan, menulis katalog, memberikan penilaian kepada karya serta menyampaikannya kepada pengunjung atau pembaca.
Kerja kurator merupakan sebuah profesi sebagai jembatan karya seni antara seniman dengan masyarakat. Kurator berperan menyampaikan pesan kembali dari karya seni kepada masyarakat umum.
Peran kuratorial ini memberikan pertanggungjawaban ke publik secara intelektual mengenai karya seperti apa yang tampil dan layak dibicarakan dalam suatu masa.
TUTORIAL
Kerja Kurator seringkali juga berkaitan dengan tutorial, yang diharapkan akan membantu seniman dapat lebih sadar akan kemampuannya. Meski kadangi bersifat otoritatif sehingga perannya menjadi lebih dominan. Tetapi pada dasarnya ia bisa banyak membantu seniman (jurufoto) yang bekerja intuitif, memahami lebih jauh tentang apa yang telah dikerjakan.
1. Tutor memperhatikan dan memberi penekanan pada kekuatan (dan kelemahan) seniman
2. Memberikan masukan secara intensif baik praktis maupun teoritis
3. Tutor membimbing, membuat seniman lebih terarah
Kurator dan Kritik.
Kerja Kurator tidak sama dengan Kritik(us) Meski seringkali memiliki sikap kritis yang sama, Kritik (Kritikus) lebih berfihak pada masyarakat-pemirsa. Ia berbeda dengan curator yang bertanggung jawab pada kehadiran karya dan berusaha menjembatani karya (dan tema) dengan masyarakat. Sedang kritik justru mempertanyakan kerja seniman dan curator secara tidak langsung, yang mengajak masyarakat untuk melihat karya (dan tema) dari sudut pandang yang berbeda (kritis).
Menjadi Kurator yang baik.
Perlu pemahaman teori ; seni (fotografi) baik tehnik (selain tehnik dasar juga komposisi, warna (b&w) dan lain), memahami foto yang secara tehnis baik maupun historis ( sejarah mahzab dan lain) teori teori sosial budaya psikologi yang berkaitan dengan perkembangan fotografi ( misalnya tulisan; Benyamin, Sontag dan Barthes) teori teori fotografi dari pelaku (misalnya; Decisive Moment nya Cartier Bresson, Rodchenko dengan realisme sosialis, lebih popular rule of 3rd rule, misalnya). Ini berkaitan dengan teori estetika khas fotografi itu sendiri dan presentasi·
Perlu pemahaman atau pembacaan akan konten satu karya foto (rangkaian foto)
Apa yang sesungguhnya ingin disampaikan dalam karya?
Tanda tanda apa yang merupakan isyarat isyarat dari maksud pembuat karya?
Apakah tanda tanda atau penanda tersebut tepat dengan apa yang ingin disampaikan oleh jurufoto dalam karya nya (contoh; Untuk kerukunan agama, jurufoto membuat karya yang menggambarkan bayangan Istiqlal jatuh ke gereja Katedral, alih alih kerukunan ia malah seolah bekerja sebaliknya, oleh pemahaman kita yang tidak bisa lepas dari sastera, bahwa (kata) bayiag (an) bukan merupakan kata sekaligus visualisasi yang tepat untuk menggambarkan maksud baik jurufoto tentang kerukunan.
Kurator (sebagai tutor) membantu juru foto untuk memahami isyarat isyarat yang digunakan. Tetapi bila curator bersifat mutlak, maka karya visual dengan intensi yang dimaksud, karena tidak tepat, ditolak.
· Memahami konteks
Untuk memahami karya lebih jauh, memaklumi serta mengurai satu karya. Maka biasanya curator berusaha mencari relasi karya dengan penciptanya. Bagaimana sikap jurufoto tersebut pada obyek, apakah ia telah menjadikan obyek obyeknya menjadi bagian dari kehidupannya, menjadi subyektif atau tidak. Memahami relasi ini akan memudahkan curator memabaca peta riwayat karya (dan senimannya). Yang akan sangat membantu curator (dan seniman) saat menerangkan karya kepada awam, yang cenderung berhenti pada pemahaman-pendekatan estetika. Dan menjadi heran saat karya karya yang ada/ dipamerkan bertabrakan dengan nilai nilai estetika yang dianggap baik dan baku.
Khas Fotografi
Dalam perjalanan dan perkembanagn fotografi, ada hal yang khas dan beda adengan seni visual yang lain. Yaitu bahwa ia menjadi populer oleh kebutuhan dan kemungkinannya diduplikasi dalam bentuk foto atau lebih sering dalam cetak kertas (majalah dan koran). Karenanya peran para direktur artistic dan seniman grafis yang mempengaruhi atau bahkan mengarahkan fotografi dalam gaya tertentu, yang sekaligus merupakan ciri tehnik (ukuran, peletakkan foto) dan misi dan visi memajalah tersebut. El Lissitzky-Rochenko (Propaganda-iklan), Brodovitch (Fashion, Life Styje) dan Brody (New Wave) (ill) critical realism)
Tentang Otoritas dan demokrasi estetika
Perlu digaris bawahi bahwa tampilan fotografi di media non cetak sekarang ini, Khususnya pada media sosial, memiliki dampak signifikan pada tata cara penilaian foto itu sendiri.
Melalui pola popular seperti like/dislike, thumbs up, fotografi mendapatkan penilaian yang alih alih demokratis, tetapi dengan kecenderungan estetika yang liberal (dalam konteks yang negative).
Fotografi itu sendiri kini juga bukan lagi merupakan suatu hal yang sulit (tingkat kesulitan yang berbeda). Dengan fitur fitur yang memudahkan, yang dibuat mengacu pada hasil hasil karya fotografi terdahulu (sepia, blue town, b&w, aneka waran yang pernah menjadi ciri produk produk jenis film tertentu, yang kini dimudahkan oleh one touch saja).
Melihat perkembangan ini, bagi mereka yang ingin melakukan penilaian (kuratorial) pada karya fotografi perlu memahami perkembangan ini. Selain selalu kembali pada tiga perspektif terdahulu dengan pemahaman yang terus berkembang.
Sehingga pada penilaian pada fotografi tidak bisa tidak ada kita harus mampu membaca karya dengan lebih teliti. Tetapi seperti pada pengamatan pada karya karya seni (visual)yang lain, para pengamat tentunya memiliki ideology yang membuatnya melakukan pengamatan yang spesifik. Ada yang lebih pada konten dan konteks tidak pada bentuk. Dan ada pula yang mengikuti perspektif klasik tentang estetika dan kemampuan pengolahan tehnis. Sehingga kita sering mendengar perdebatan yang sesungguhnya akibat perbedaan perspektif dan persepsi
Selain itu akibat semakin banyaknya hasil foto yang (di) tampilkan di media sosial melalui led dengan kemungkinan penilaian yang bersifat umum; like dan dislike, “thumbs up’). Fotografi memiliki masalah pada otoritas estetika. Satu hal yang mungkin tidak menjadi tantangan langsung pada kuratorial seni dengan khalayak yang terbatas. Dan apresiasi yang juga diperuntukkan umum dibanding seni visual yang yang cenderung diperuntukkan (pemilikkan pribadi).
Tetapi saat pembicaraan menjadi serius, menyangkut tiga aspek yang kita harap dapat ,menjadi acuan otoritas kembali pada mereka yang mampu melakukan penjelasan dari 3 aspek tadi. Sehingga sekarang ini berbeda dengan dunia seni visual yang lain, pada fotografi kita, umumnya para kurator adalah mereka yang punya pengalaman praktek fotografi dan juga sering atau pernah berkecimpung dalam masyarakat khususnya melalui media masa cetak.
Kurator dan Ideologi
Namun harus disadari bahwa apabila semua curator hanya mengacu pada 3 hal tadi maka dunia kuratorial itu sendiri tidak akan hidup, dan akan menjadi seperti pemandu atau panduan saja.
Sesungguhnya para curator itu sendiri memiliki pemikiran pemikiran yang khas, perkembangan estetika dalam hal ini fotografi itu. Bagaimana sikap curator terhadap manipulasi tehnik dalam fotografi? Atau Digital Imaging.
Lantas pada selera itu sendiri. Seberapa jauh curator menganggap pentingnya bobotan visual terhadap konten. (Saat seorang curator (senirupa) memperlihatkan seri foto juru foto tentang satu kota dengan pendekatan terkini, yang cenderung anti estetik, seorang pengunjung yang pemotret senior protes; bahwa foto jenis seperti itu tidak layak dipamerkan, karena tidak memenuhi persyaratan fotografi ) . Disini apa yang kita lihat adalah perbedaan persepsi dan ideology tentang estetika dan fungsi fotografi itu sendiri.
Pada pelaksanaan pameran, ada curator yang sangat kritis pada presentasi (karena merupakan perwakilian dari tema secara keseluruhan). Ada yang tidak. Semua kembali mengacu pada pemikiran dasar atau ideology sang curator itu sendiri. Pada dasarnya seperti seniman, (masing masing) para curator juga memiliki ciri khas sendiri.
Teks : Firman Ichsan
Ilustrasi : Balada Tukang Kaos

Comments
Post a Comment