Posts

Memahami Pikiran Leonardi

Image
  Lima puluh tahun yang lalu Leonardi pernah bertutur dalam tulisan bertajuk Beladjar Memotret Masa Kini pada majalah Foto Indonesia nomor 6 bulan Djuni 1969. Dengan membaca judul artikel tersebut kita akan tahu tentang isi yang lebih banyak mengupas tentang persoalan teknis. Terlepas dari persoalan teknis tadi yang menarik justru pada pernyataannya yang mengungkapkan bahwa: “Beladjar memotret masa kini benar-benar berbeda dengan 10 bahkan 20 tahun jang lampau. Setidaknja, bila anda mau beladjar memotret saat ini, beberapa keuntungan telah anda peroleh. Karena sekarang, anak ketjilpun bisa memotret. Namun bila anda mau memperdalam fotografi, memang peladjaran tersebut tak mungkin ada habisnja.”   Keuntungan yang dimaksudkan dalam catatan tersebut berupa kemudahan memotret akibat dari perkembangan teknologi kamera. Seiring dengan terjadinya revolusi kamera justru semakin memudahkan para penggunanya dalam hal mereproduksi bentuk objek secara nyata, detail dan gambar yang “se...

Photography : Protest Visual dan Visual Protest

Image
  Photography : Protest Visual dan Visual Protest   Fotografi tetap menjadi ruang untuk berbagi dan bertukar kertas kerja untuk narasi protest yang terdokumentasikan karena menunjukan sesuatu hal yang ada diruang fisik untuk dartarik dalam ruang diskursus dengan penawaran bukti visual yang bertanggungjawab dengan klaim politik yang diarahkan kepada variasinya terget. Foto menjadi  penting untuk memahami teguran intens dari sebuah gerakan protes dinamika di sekitarnya. Tidak adanya kausalitas jelas memungkinkan pembacaan foto dalam membaca sebuah protest memungkinkan fotografer tersebut juga terlibat secara politis dengan foto-foto tersebut. Ini termasuk keterbukaan interpretif publik terkait  kualitas estetika dan potensi antar-ikon protest yang ditampilkan dalam foto  secara  intim untuk menafsirkan sesuatu dan memberikan kualitas estetika tertentu yang ingin disajikan kepada publik.   Ekologi dan publik fotografi baru melalui sosial media menguatkan ...

MELIHAT PRAKTEK BUKU FOTO INDONESIA

Image
  MELIHAT  PRAKTEK BUKU FOTO INDONESIA     Belum diketahui secara pasti praktek buku fotografi di Indonesia kapan dimulai. Karena belum ada data maupun arsip yang valid yang menunjukan itu.  Belum adanya riset dan kanjian buku foto yang konperhensip yang menyebabkan masih gelapnya awal pembabakannya.  Kalau boleh disebut buku foto “The American” karya Robert Franks yang terbit pertama kali nya tahun 1958 sebagai tonggak perkembangan buku foto dunia ataupun pertembangan buku foto yang di Jepang dikisaran tahuan 1960 an , perkembangan buku foto Indonesia bisa dikatakan sangat terlambat.  Keterlambatan ini bisa jadi suatu keuntungan untuk mengarsipkan dan mendata buku-buku foto yang pernah terbit di Indonesia. Mumpung jumlahnya masih sedikit, dikisaran 500an buku (data dari perpustakaan AFN).   Mungkin b aru di medium 1990 buku foto mulai dikenal   disini . Fenom ena  buku foto Indonesia ditahun -tahun  itu bisa dilihat dari buku foto ...

A Picture: Worth Thousand Words (?)

Image
      A Picture: Worth Thousand Words (?) Teks : Ali Mecca   Sebuah Pengantar Sejak fotografi modern dilahirkan pada abad ke-19, kekuatan dokumentatif yang melekat dalam realisme seni lukis saat itu mulai mengalami kegoyahan, lalu perlahan-lahan realisme seni lukis mulai digantikan oleh realisme “baru” yang ditawarkan oleh fotografi. Gelombang eksodus para pelukis realis pun tak bisa ditahan-tahan lagi, sebagian besar dari mereka memilih beralih profesi menjadi tukang potret. Betapa tidak, saat itu fotografi begitu populer, semua orang ingin mempunyai citra diri atau citra keluarganya sendiri, sehingga fotografer seringkali kebanjiran order , dan bersamaan dengan itu otentisitas realisme senilukis benar-benar tergantikan oleh realisme reproduktif fotografi. Citraan yang dihasilkan oleh fotografi memang lebih mampu merepresentasikan kenyataan ketimbang apa yang dihasilkan seni lukis, bahkan citraan fotografi seringkali dipercaya sebagai ‘kenyaataan’ itu se...

KURASI, KURATOR DAN KURATORIAL (Curation, Curator and Curatorial)

Image
KURASI, KURATOR DAN KURATORIAL (Curation, Curator and Curatorial) Secara menyeluruh tugas kurator adalah memberi jasa perencanaan dan pelaksanaan suatu pameran seni rupa-pembuatan buku, yaitu selain praktek pameran – pemilihan karya untuk dipamerkan, bukukan, dan lain yang menyangkut kehadiran karya seni pada masyarakat (yang dituju). Ia membangun wacana representasi seni karya yang dipamer/bukukan. Dasar-dasar kurasi inilah yang nantinya dapat mencerminkan kondisi situasi, visi dan misi serta citra yang dibangun dalam pameran-penerbitan.  Dalam sebuah pameran, kerja kurator dimulai dari persiapan, menentukan tema kegiatan, memilih karya yang dipamerkan, bagaimana menyusun karya tersebut, bagaimana kemasannya, cara penyajian, dimana diadakan, menulis katalog, memberikan penilaian kepada karya serta menyampaikannya kepada pengunjung atau pembaca. Kerja kurator merupakan sebuah profesi sebagai jembatan karya seni antara seniman dengan masyarakat. Kurator berperan menyampaikan pesan k...