Photography : Protest Visual dan Visual Protest
Photography : Protest Visual dan Visual Protest
Fotografi tetap menjadi ruang untuk berbagi dan bertukar kertas kerja untuk narasi protest yang terdokumentasikan karena menunjukan sesuatu hal yang ada diruang fisik untuk dartarik dalam ruang diskursus dengan penawaran bukti visual yang bertanggungjawab dengan klaim politik yang diarahkan kepada variasinya terget. Foto menjadi penting untuk memahami teguran intens dari sebuah gerakan protes dinamika di sekitarnya. Tidak adanya kausalitas jelas memungkinkan pembacaan foto dalam membaca sebuah protest memungkinkan fotografer tersebut juga terlibat secara politis dengan foto-foto tersebut. Ini termasuk keterbukaan interpretif publik terkait kualitas estetika dan potensi antar-ikon protest yang ditampilkan dalam foto secara intim untuk menafsirkan sesuatu dan memberikan kualitas estetika tertentu yang ingin disajikan kepada publik.
Ekologi dan publik fotografi baru melalui sosial media menguatkan beberapa kekhawatiran usang dalam analisis sebuah foto. Frosh (2011) menunjukkan bagaimana gambar selalu dikaitkan dengan potensi penipuan dan manipulasi, sementara Zelizer (2006) mencatat bagaimana reproduktifitas gambar dapat menyebabkan pendangkalan makna dari objek, foto, atau peristiwa asli. Argumen tentang penipuan dan manipulasi berhubungan dengan fakta bahwa fotografi selalu tunggal yaitu snapshot atau bahkan reduksi kenyataan yang lebih kompleks dari apa yang ditunjukkan dalam frame foto, termasuk foto tentang atau terkait dengan protest. Pembulatan framing fotografi secara universal berpotensi akan ditekuk dan dipelintir melalui reproduksi, re-performance dan remediasi sampai pada tahap di mana makna 'baru' akan tercipta dalam prosesnya yang mungkin menjadi berlebihan, dangkal atau bahkan manipulasi basis faktual dari foto yang asli untuk mengungkap sebuah protest (visual) atau visalisasi dari protest yang ingin disampaikan.
Fotografi melibatkan konvergensi cara kamera "melihat" dengan bagaimana mata dan otak manusia menafsirkan dunia. Intinya, persepsinya tentang tujuan sebenarnya media fotografi adalah untuk mencapai kekuatan deskripsi tertinggi sehingga protest yang ditampilkan memiliki daya gedor visual yang tajam, kritis serta menggugah orang, kelompok atau sstem untuk bertindak dalam langkah kerja selanjutnya dalam formasi apapun. Foto-foto yang ditampilkan dalam formasi protest memiliki argumen asli dan intelektual sangat ketat, namun pada saat yang sama dapat diakses siapa saja yang tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentang protest sosial progresif kontemporer tanpa mereka harus memiliki latar belakang spesialis, tapi menjadi sebagai intervensi visual dalam sosiologi publik yang bisa bermanfaat dan provokatif. Protest merupakan bagian seni yang memiliki pengalaman langsung dengan sesuatu di dunia dan fotografi hanyalah desas-desus namun status dan bentuk retorika substitusinya selalu sangat bergantung.
Akhirnya, fotografi sebagai hadiah yang ambigu, sekaligus kreatif dan destruktif serta unggul dalam memusatkan perhatian pada detail yang tidak diperhatikan, menangkap segala sesuatu yang mengelilingi pekerjaan seperti sebuah protest itu sendiri yang dalam prosesnya dapat beroperasi secara efektif sebagai alat untuk mengungkapkan ruptur yang berpotensi aneh atau halus ke dalam sehari-hari sehingga protest itu ada dalam pembentukan dan pemeliharaan memori publik resminya. Namun dalam banyak protest yang terjadi, fotografi selalu terikat dalam produksinya yang terlibat dalam kekaburan mendasar antara pahatan, pertunjukan dan pementasan citra estetika untuk dan terhadap publiknya dalam konteks sosio-politik yang sama sekali baru. Kemampuan fotografer untuk menggunakan publik dalam membangun citra protest yang bertindak sebagai katalisator bagi perubahan sosial membutuhkan sebuah fondasi, karena ekosistem yang mempertahankan karya-karya protest yang menciptakan kerja sosial itu perlu mekanisme distribusi pengetahuan dan artefak yang jelas dan keberlanjutan, jika ada, mungkin ada atau harus ada.
Proses tindakan membaca gambar merupakan tindakan terakhir dari kolaborasi antara fotografer dan pemirsa di mana fotografer menciptakan dan decode pemirsa. Visual protest adalah argumen provokatif untuk dalam bentuk protest visual menggunakan fotografi sebagai praktik individu-publik bahkan melalui gender yang mampu merebut, mempertahankan atau membuat sebuah kekuatan sipil yang tersaji dalam sebuah narasi historis. Kekuatan foto dibahas dan kemudian pertanyaan tentang representasi diperiksa. Gagasan foto sebagai 'lipatan' diusulkan sebagai salah satu cara untuk membantu mengintegrasikan berbagai perspektif tentang masalah representasi dan melalui perspektif protest ini cara kerjanya sedang diupayakan sebagai sebuah representasi tertentu. Ini protest yang episodik, impresionistik, dan esai dengan penekananbahwa fotografi merupakan sebuah kerja ilustratif, intuitif dan konstitutif dari medan sosio-spatial yang disediakan oleh lansekap kehidupan.
.
.
Teks : Frans Ari Prasetyo
Diicuplik dari kesimpulan ulisan buku foto “Melawan Lewat Kamera”
(Tulisan ini juga bisa dinikmati di blog voice of raws. Klik link bio.)

Comments
Post a Comment