Memahami Pikiran Leonardi
Lima puluh tahun yang lalu Leonardi pernah
bertutur dalam tulisan bertajuk Beladjar Memotret Masa Kini pada majalah Foto
Indonesia nomor 6 bulan Djuni 1969. Dengan membaca judul artikel tersebut kita
akan tahu tentang isi yang lebih banyak mengupas tentang persoalan teknis.
Terlepas dari persoalan teknis tadi yang menarik justru pada pernyataannya yang
mengungkapkan bahwa: “Beladjar memotret masa kini benar-benar berbeda dengan 10
bahkan 20 tahun jang lampau. Setidaknja, bila anda mau beladjar memotret saat
ini, beberapa keuntungan telah anda peroleh. Karena sekarang, anak ketjilpun
bisa memotret. Namun bila anda mau memperdalam fotografi, memang peladjaran
tersebut tak mungkin ada habisnja.”
Keuntungan yang dimaksudkan dalam catatan
tersebut berupa kemudahan memotret akibat dari perkembangan teknologi kamera.
Seiring dengan terjadinya revolusi kamera justru semakin memudahkan para
penggunanya dalam hal mereproduksi bentuk objek secara nyata, detail dan gambar
yang “seindah warna aslinya”. Kehadiran kamera yang menyatu dengan telepon
genggam (handphone) berimplikasi mudahnya orang dalam memotret termasuk
anak-anak kecil. Kamera kemudian menjadi kebutuhan penting untuk merekam diri
sendiri atau peristiwa yang dialaminya. Kemudahan dalam merekam objek tentunya
tidaklah sebatas melakukan pemotretan semata seperti yang dilakukan oleh para
pengguna kamera handphone namun harus diimbangi dengan pemahaman teknik,
pengaturan komposisi, penyinaran yang tepat dan lain-lain. Hal tersebut
sangatlah penting sehingga akan didapat hasil yang baik dan akan berbeda dengan
para pemotret yang hanya melakukan perekaman semata. Leonardi pun pernah
menuturkan bahwa: “Merupakan kewadjiban setiap pemotret untuk mengolah segala
sesuatu jang biasa nampak luar biasa setelah djadi sebuah foto. Dari hasil
pemotretan demikianlah tertjipta foto-foto jang baik dan mengagumkan setiap
orang jang melihatnya.” (Foto Indonesia, No. 9, Oktober 1969, hal. 26)
Melihat dua hal yang dituturkan oleh Leonardi
tentu kita sudah dapat memahami bahwa perkembangan fotografi dari masa ke masa
selalu ditandai dengan perubahan teknologi kamera sehingga memudahkan
pengoperasiannya. Pada satu sisi kemudahan pegoperasiannya harus diimbangi
dengan pengetahuan teknik dalam mengolah setiap objek yang dianggap memiliki
keindahannya sendiri-sendiri. Dari penuturan tersebut barangkali kita juga
dapat menyimpulkan bahwa foto yang dianggap baik oleh Leonardi sangatlah
simpel, tidak memerlukan pengolahan yang sangat rumit seperti halnya dilakukan
dalam olah digital, dan hasilnya mudah dicerna. Walaupun dalam kesempatan lain
Leonardi pun pernah juga berpendapat lain tentang realitas objek yang dipotret
sebagai bentuk ekspresi dari para pemotret. Dalam konteks karya seni Leonardi
menuturkan bahwa: “Kita membuat foto tidak sekedar untuk mendokumentasikan apa
jang kita lihat. Semakin dalam pengetahuan seseorang tentang fotografi mungkin
ia akan berusaha mendjauhi realitas dan mentjiptakan suatu kreasi lain jang
dapat dinamakan sebagai “karya seni”.” (Foto Indonesia, No. 10, November 1969,
hal. 53).
Pernyataan tersebut tentunya menjadi paradoks
dengan kebanyakan pernyataannya yang sangat menitik beratkan pada persoalan
teknis dan keindahan visual secara kasat mata. Tulisan dan cara mengajar pun
kerap dipenuhi dengan persoalan-persoalan teori walaupun selalu dipandang oleh
sebagian besar hal yang tidak penting misalnya masalah lensa yang terlalu
detil. Selama hampir tiga puluh tahun lebih tulisannya tidak berubah tetap
berkutat pada persoalan teknis dan perkembangan kamera atau lensa. Pernyataan
paradoks tersebut justru menjadi menarik untuk diperbincangkan karena sangatlah
jarang diungkapkan baik dalam tulisan maupun citra yang terbentuk hasil dari
perekaman kamera.
Dengan membaca pikiran-pikiran Leonardi dalam
bentuk artikel dalam beberapa edisi di madjalah Foto Indonesia tentunya akan
ditemukan benang merah bagaimana suatu karya foto yang dianggap baik itu
dibuat. Banyak yang bisa dikaji lebih dalam berdasar pada pikiran-pikiran
Leonardi dalam karya foto dengan citraan sederhana, tidak jelimet, dan
ditunjang teknik yang sederhana pula. Ini merupakan pencarian kembali
jejak-jejak citraan dengan kembali pada akar fotografi yang sederhana.
Tim Riset Sathyabodhi

Comments
Post a Comment