SISA CERITA PROYEKSI SINAR PETROMAKS

SISA CERITA PROYEKSI SINAR PETROMAKS

Adalah seorang seniman lithography Perancis, Joseph-Nicephore Niepce, yang pada tahun 1824 telah meng-exposed pemandangan dari kamarnya selama 8 (delapan) jam pada sebuah plat logam yang dilapisi aspal. Proses yang disebutnya Heliogravure (proses kerjanya mirip lithograph) berhasil melahirkan sebuah gambar secara permanen. Kemudian prinsip yang sama digunakan pada kamera obscura berlensa yang kemudian disebut heligarvure, dan 2(dua) tahun setelahnya yaitu pada tahun 1826 yang akhirnya menjadi sejarah awal fotografi yang sebenarnya. Foto yang dihasilkan itu kini disimpan di University of Texas, Austin, AS.


Fotografi modern melahirkan banyak pionir dan banyak punya “korban”. Era perkembangan fotografi digital pun banyak melahirkan pionir dan banyak pula menimbulkan korban pada pelaku fotografi era sebelumnya (analog) di seluruh dunia.

Tidak terkecuali di kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Sejak marak fotografi digital di tahun 2005-an, perlahan namun pasti sistem fotografi analog mulai ditinggalkan oleh pelaku bisnis fotografi, dan beralih ke sistem digital, dan selebihnya memilih pensiun dari dunia bisnis fotografi.


Pernah pada suatu era, afdruk (istilah cetak foto) pas foto kilat menjadi sangat menggiurkan dari segi keuntungan. Dengan bermodal peralatan sederhana, sudah dapat melakukan cetak pas foto kilat. Adalah Kai Ruslan yang berprofesi sebagai tukang afdruk pas foto kilat yang sudah menjalani profesinya sejak tahun 1960-an. Beliau mengenang jaman keemasan usaha yang didirikannya tersebut dengan bercerita bagaimana beliau pernah membuat pas foto untuk murid-murid SMPN se-kota Banjarmasin. Sungguh suatu kondisi yang mungkin sulit terlaksana pada jaman sekarang, di saat fotografi sudah sangat mudah untuk diakses oleh semua orang.


Kai Ruslan tidak ingat pasti tahun lahir beliau, namun beliau memperkirakan sekitar tahun 1943, yang berarti pada saat tulisan ini dbuat, beliau berumur sekitar 75 tahun (2018). Dengan gerobak yang berfungsi sebagai ”kamar gelap” untuk melakukan afdruk foto, beliau bertahan dengan usahanya. Motivasinya bukan lagi tentang keuntungan nominal yang didapat, tapi dengan membuka lapaknya, beliau bisa bertegur-sapa dengan kawan-kawannya sesama pelaku usaha afdruk pas foto kilat dengan petromaks yang sama-sama mangkal di pasar blauran, di kota Banjarmasin.

Hari berlalu, tahun berganti. Kawan dan kolega-pun hilang abadi. Banyak yang memilih pensiun karena usaha semakin sepi, dan usia mulai renta. Tapi Kai Ruslan tetap bertahan dengan gerobaknya hanya untuk menghibur diri dan berjumpa dengan kolega muda para pelaku fotografi di Banjarmasin. Bertegur-sapa, bertutur dengan cerita masa lalu untuk para fotografer muda yang masih mengapresiasi keberadaan beliau.


Mungkin Kai Ruslan adalah pelaku afdruk pas foto kilat satu-satunya yang tersisa di Banjarmasin, mungkin juga di Indonesia. Kita tidak pernah tahu kapan dan bagaimana dunia akan berubah, namun dunia pasti akan berubah.


Foto dan Teks : Acid Ridha @bang_acid


Comments

Popular posts from this blog

KURASI, KURATOR DAN KURATORIAL (Curation, Curator and Curatorial)

Self Portrait (Potret Diri) sebagai Representasi Objektif Diri

Photography : Protest Visual dan Visual Protest