Cyanotype; Fotografis dan Asmara

Cyanotype; Fotografis dan Asmara

Bermula dari ngobrol santai dimeja kopi Red Raws Center, saya bertemu dengan Mas Wicaksono, seorang pegiat fotografi yang sedang berbincang dengan Wahyu Dhian. Obrolan kopi tersebut kemudian menngerucut pada sebuah kepingan peristiwa fotografis dimasa lalu terkait budaya cetak di Kota Bandung. Desas-desusnya bahwa pada medio 1970-an masyarakat kota Bandung telah mengenal budaya cetak cyanotype. Wah saya jadi semakin tenggelam khusyuk mendengarkan obrolan diantara mereka. 

Bahan baku utama pembicaraan ini ternyata berasal dari seorang Sjuaibun Ilyas. Beliau memiliki – katakanlah - artefak peninggalan dari masa dimana masyarakat Kota Bandung ramai melakukan cetak cyanotype dari informasi yang dibeberkan , artefak tersebut memuat citra dari Ayahandanya sendiri pada masa usia yang berbeda. 

Sjuaibun Ilyas sendiri merupakan seorang fotografer profesional yang dikenal luas  dikalangan pemerhati fotografi Kota Bandung. Beliau mengenal fotografi dari keluarganya dan mulai aktif berfotografi secara mandiri sejak 1980-an. Berdasarkan kesaksian beliau, artefak yang ia miliki adalah buatan kakaknya, setelah membeli sesuatu pada Tukang Obat – istilah Sjuaibun- yang ternyata bisa jadi merupakan sosok penting dalam budaya cetak cyanotype di Kota Bandung. Mengapa begitu? Mari kita simak. 

Teknik cyanotype adalah salah satu teknik “old print” fotografi yang luput dari perhatian para penggiat foto khususnya era millenial. Teknik Cyanotype dikenal juga dengan istilah “cetak biru” atau sun print. Ditemukan pertama kali oleh Sir John Herschel. Metode penciptaan cetak menggunakan cyanotype cukup simpel dan mudah dipraktikkan oleh amatiran sekalipun, dikarenakan teknik cetak tua ini tidak memerlukan darkroom atau kamar gelap.  Metode cetak cyanotype secara sederhana adalah mengoleskan chemical ke media cetak atau mengemulsi. Media cetak pada cyanotype tidak terbatas hanya pada kertas semata, bisa juga pada media kayu, kain, batu dan media lainnya. 

Sebelumnya sudah disebutkan diatas mengenai desas-desus praktik cetak-mencetak dengan cyanotype di Bandung. Hal tersebut menurut hipotesis saya memang dapat terjadi. Alasan kuatnya adalah motif ekonomi. Pertama, meskipun alat fotografi (kamera) sudah banyak beredar, namun secara skala pengunaan masihlah belum merata di semua lapisan penduduk. Kedua, setelah memiliki alat fotografi unutuk mencetak diperlukan proses laboratorium untuk melakukan kegiatan mencetak yang proper dan sesuai keinginan. Nah keduanya adalah proses yang tidak murah. Ini yang menurut saya melahirkan praktik alternatif dalam kebutuhan mencetak khususnya cyanotype.

Lebih lanjutnya secara sosial, kebiasaan berkumpul di Alun-alun atau di pusat-pusat keramaian lainnya adalah wahana penyerapan hal-hal baru bagi masyarakat. Pada kesempatan inilah si “Tukang Obat” itu berperan. Dia adalah bagian dari sebuah grup yang melakukan pengumpulan massa - biasanya dengan atraksi yang disertai tetabuhan yang keras- sambil melakukan promosi atau jualan. Tukang Obat ini berperan sebagai penyedia utama chemical develop untuk melakukan cetak cyanotype. Caranya ia kemudian menghampiri kerumunan massa untuk melakukan demosntrasi sebuah alternatif cetak dengan cara menempelkan negatif film ke media kertas. Sambil terus mengoceh, media dengan negatif film yang menempel lalu dijemur untuk sekian waktu dan citra negatif film pun tampak. 

Demo ini tentu menarik perhatian massa yang menonton, sehingga mereka  tertarik mempraktikkan ulang setelah sebelumnya dibekali chemical develop dan teknis-teknis yang lebih rinci. Setelah itu cyanotype ditemukan dikartu-kartu pos, di surat-surat cinta dan media berkomunikasi yang marak digunakan saat itu. Cara ini lazim dan  dilakukan pada masa itu untuk bertukar foto diri kepada sahabat pena, keluarga, hingga kekasih yang berbeda kota tinggal. 

Sehingga saat kangen melanda tidak perlu gundah gulana, buka kartu pos atau surat yang diterima. Tadaaaa... ada citra sang kekasih yang menemani.

Arsip foto : Sjuaibun Ilyas

Teks : Reyonard Octavianus

Comments

Popular posts from this blog

KURASI, KURATOR DAN KURATORIAL (Curation, Curator and Curatorial)

Self Portrait (Potret Diri) sebagai Representasi Objektif Diri

Photography : Protest Visual dan Visual Protest