Fotografi Domestik: Antara Memori dan Representasi Identitas Diri
Fotografi Domestik: Antara Memori dan Representasi Identitas Diri
Oleh:
Ali Mecca
Fotografi merupakan praktik kultural yang telah
menyatu dengan gerak keseharian masyarakat. Fotografi banyak dimanfaatkan dalam
ranah domestik untuk kebutuhan foto dokumentasi keluarga, foto pernikahan, foto
wisuda, foto liburan, foto ulang tahun,
foto kelahiran, hingga foto kematian. Bahkan hari ini semua orang dapat membuat
foto apapun melalui smartphone-nya masing-masing. Sehingga praktik
fotografi tidak sekadar menjadi perilaku konsumsi belaka, tetapi juga merupakan
proses produksi yang aktif dilakukan oleh masyarakat secara umum.
Kecenderungan semacam ini
memang sudah muncul sejak George Eastman mengembangkan kamera Kodak pada tahun
1888. Sejak saat itu fotografi tidak lagi eksklusif seperti awal kelahirannya
yang hanya dapat diakses oleh orang-orang dari kalangan tertentu saja.
Fotografi di era Kodak menjadi sangat demokratis dan bisa dijangkau oleh
orang-orang dari berbagai lapisan masyarakat karena prosesnya yang murah dan
mudah, yang kemudian melahirkan sebuah corak budaya baru: Kodak Culture.
Jika dilihat perkembangannya,
praktik fotografi hari ini tentu saja sudah melampaui apa yang dicapai di era
Kodak. Hari ini, setiap orang tidak hanya dapat memproduksi foto. Namun juga
dapat mengeksplorasi tahap pascaproduksinya (editing) untuk kemudian
mendistribusikannya melalui berbagai platform virtual, bahkan pada kondisi
tertentu orang dapat mengomentari dan saling memberi tanggapan pada foto-foto
yang tersaji di ranah virtual. Dengan demikian, praktik fotografi menjadi
wacana yang multi-dimensi baik dari segi produksi, konsumsi, maupun
distribusinya.
Pertanyaan yang kemudian
muncul dan menarik untuk didiskusikan adalah: Bagaimana fotografi domestik yang
bersifat privat ini berkelindan dalam wacana media sosial yang bersifat publik
sebagai media distribusinya?
Fotografi Domestik, Foto Keluarga, dan
Konflik Memori
Dalam
kaitannya dengan ruang domestik, fotografi secara umum dapat dipahami sebagai
sebuah aktivitas yang dilakukan oleh orang biasa yang mengambil dan menggunakan
foto bukan untuk tujuan profesional (Sarvas & Frohlich, 2011). Secara lebih
spesifik, fotografi domestik ini berpusat pada rumah sebagai tempat
berlangsungnya segala aktivitas dan melihat keterhubungan orang-orang di
dalamnya melalui aktivitas fotografi. Oleh karena itu, aktivitas fotografi
ruang domestik tidak hanya terbatas pada memotret saja. Tetapi melingkupi
aktivitas melihat foto, menunjukkan foto, meyimpan foto, dan memperbincangkan
foto.
Walaupun fotografi domestik dan foto keluarga
mempunyai pengertian yang agak berbeda. Pada praktiknya, fotografi domestik ini
seringkali diidentikan dengan foto keluarga. Adapun foto keluarga memiliki
pengertian sebagai kegiatan dokumentasi yang bertujuan untuk
menciptakan sejarah keluarga melalui memori visual. Menurut Strassler (2006) foto
keluarga seringkali dilakukan pada saat acara pertemuan keluarga, liburan, dan
acara khusus lainnya yang disertai juga dengan kunjungan ke studio foto. Strassler
juga secara
spesifik membagi praktik foto keluarga ke dalam beberapa ragam dan fungsi,
yaitu: sebagai dokumentasi pernikahan, dokumentasi pemakaman, acara ulang
tahun, dan biografi. Artinya,
foto keluarga dapat dimaknai secara luas sebagai kegiatan dokumentasi visual
atas berbagai macam kejadian penting yang sedang atau telah dialami
oleh sebuah keluarga.
Bagi Annette Kuhn (2007) foto-foto semacam ini
kemudian melahirkan apa yang disebut sebagai performative oral tradition. Di mana praktik ini dapat membentuk sejarah keluarga dan melahirkan berbagai macam ingatan cerita tentang keluarga, mulai dari cerita tentang
kepahlawanan, asal-usul keturunan keluarga, momen-momen penting, kelahiran,
kematian, kepedihan, kebanggaan, ketidaksukaan,
anekdot, ataupun kejadian-kejadian
lucu. Namun perlu diketahui lebih lanjut bahwa
ingatan yang dimunculkan oleh foto keluarga ini tidaklah sama bagi setiap
anggota keluarga.
Dalam pandangan Kuhn (2002) lebih
lanjut memaknai sebuah
foto keluarga itu adalah hal yang cukup kompleks, dan bahkan dapat menjadi arena konflik, terutama dalam kaitannya dengan relasi hirarkis antar anggota keluarga satu dengan yang lainnya.
Pernyataan ini kiranya dapat direfleksikan ke dalam salah satu foto keluarga saya yang ketika itu dibuat pada saat resepsi pernikahan kakak perempuan saya di periode 1990-an akhir. Dalam foto tersebut semua anggota keluarga mesti
terlihat bahagia, sebagaimana bahagianya kakak perempuan saya beserta suaminya.
Namun, bagi saya foto tersebut membangkitkan memori yang sama sekali tidak
membahagiakan, karena ketika itu saya ‘dipaksa’ oleh orang tua dan kakak
perempuan saya untuk mengenakan pakaian adat sunda yang menurut saya terlihat norak, tidak nyaman, membuat panas, dan sulit
bergerak. Pada akhirnya, citra diri saya tampil
dalam foto keluarga dengan mimik wajah cemberut.
Hal seperti inilah yang
kemudian oleh Kuhn dikatakan bahwa foto keluarga dapat menjadi arena
konflik, lebih tepatnya konflik ingatan. Karena setiap individu yang
hadir di dalam citra foto memiliki memori yang berbeda satu sama lainnya. Bahkan tak hanya berbeda,
tetapi cenderung kontradiktif. Kontradiksi memori
tersebut pada akhirnya ditentukan atau diseleksi berdasarkan relasi
hirarkis antar anggota keluarga, yang dalam konteks ini orang tua dan kakak
perempuan sayalah yang lebih mempunyai kuasa untuk menentukan memori apa yang
seharusnya hadir dalam foto keluarga
tersebut. Dan bentuk kuasa semacam ini seringkali
termanifestasi dalam bentuk caption atau deskripsi tertulis yang
mendampingi foto.
Dari Ruang Privat ke Ruang Publik
Distribusi dan
penyajian foto domestik sebelum kemunculan ruang virtual memiliki akses
terbatas, karena hanya dapat dilihat dan diperbincangkan oleh orang-orang
tertentu saja. Hal ini disebabkan karena foto-foto yang sifatnya sebagai
dokumentasi sehari-hari pada awalnya lebih sering disimpan di dalam album,
dinding kamar, dinding ruang tamu, atau dinding ruang keluarga. Sehingga nilai
fotonya lebih personal dan lebih intens.
Namun,
kehadiran ruang virtual media sosial telah memicu pergeseran cukup masif dalam
hal distribusi foto-foto domestik ini. Dalam argumentasi saya, di dalam ruang virtual
sudah jarang ditemukan foto-foto yang memiliki nilai personalitas tinggi
seperti yang biasa tersimpan di dalam dompet, pintu lemari, dinding ruang
keluarga, dinding kamar tidur, atau di dalam ruang privat lainnya.
Ruang
virtual telah memberikan kemungkinan baru bahwa foto yang sifatnya sangat
intens, personal, yang sebelumnya hanya dapat dilihat dan diperbincangkan oleh
orang-orang tertentu di lingkungan keluarga saja, kini dapat dilihat dan
diperbincangkan juga oleh publik yang lebih luas.
Kondisi
ini dalam argumentasi saya telah memicu motif lain dalam hal pembuatan dan
penyebaran foto-foto domestik. Foto yang pada awalnya dimaknai dari perspektif
memori, yang dibuat tanpa pretensi tertentu, kemudian berubah menjadi foto-foto
yang bertujuan untuk representasi identitas diri, yakni: saya ingin dilihat
sebagai siapa. Hal ini dimungkinkan karena ruang virtual media sosial merupakan
sebuah ruang publik yang di
dalamnya berlangsung
praktik legitimasi sosial berdasarkan identitas diri yang
dipertunjukkan oleh
individu melalui foto-foto yang diperlihatkannya.
Dalam
perspektif ini, dapat saya argumentasikan bahwa sebuah foto dengan kekuatan
visualnya seringkali digunakan sebagai media pencitraan diri untuk mempengaruhi
orang lain supaya melihat diri sesuai dengan apa yang dikehendakinya. Dan
pernyataan ini menemukan relevansinya ketika sebuah foto ditampilkan di dalam
ruang virtual media sosial seperti Facebook, Instagram, dsb.
Di
dalam ruang virtual siapapun bebas untuk menampilkan identitas yang diinginkannya.
Bahkan, jenis identitas seperti ini bisa jadi membuat orang merasa lebih
memahami aspek-aspek tersembunyi dari diri mereka sendiri dengan merayakan
kebebasan di dalam ruang dunia maya. Dengan demikian, setiap orang dapat
mengkonstruksi dan merekonstruksi dirinya sendiri melalui citra foto, yang kemudian
mengubah konsep self (diri) menjadi self-create (diri yang dibentuk
atau dibuat-buat).
***
Lalu pertanyaan
berikutnya muncul, bagaimana konflik ingatan terkait foto domestik ini berlangsung
di ruang virtual media sosial? Apakah ruang virtual dapat menjadi arena konflik
baru atau justru dapat menjadi ruang negosiasi yang lebih egaliter?
Referensi
Kuhn, A.
(2007). Photography and cultural memory:
a methodological exploration. Journal Visual Studies.
Vol. 22, No. 3, December 2007: Routledge.
(2002). Family Secrets: Acts of Memory and
Imagination. London, Newyork: Verso.
Sarvas, R. & Frohlich, D.M. (2011). From
Snapshots to Social Media – The Changing Picture 5 of Domestic Photography,
Computer Supported Cooperatif Work. London: Springer.
Strassler, K.
(2006). Refracted Visions: Popular
Photography And National Modernity In Java. Duke University Press.

Comments
Post a Comment