Phototherapeutic : fotografi sebagai medium terapi

Doug Stewart dalam Photo Therapy: Theory & Practice (1997) telah menggunakan fotografi sebagai medium terapi untuk pasien di rumah sakit jiwa pada tahun 1850-an, atau sekitar 11 tahun setelah Louis Daguerre pertama kali memperkenalkan kamera kepada khalayak umum. Sejak saat itu, konsep menggunakan fotografi sebagai terapi telah berkembang di Eropa, Kanada, dan Inggris, hingga ke seluruh dunia. Berbagai proyek dilakukan berkenaan penggunaan fotografi sebagai terapi, seperti pemberdayaan individu dan masyarakat agar memiliki kekuatan positif, berani mengungkapkan sesuatu masalah yang sensitif, menghilangkan trauma karena berbagai kondisi seperti lingkungan prostitusi, perang, bencana alam, dan lainnya. 

Foto sebagai terapi menggunakan gagasan bahwa di dalam foto ada representasi dari memori emosional. ‘Studium dan punctum” - Roland Barthes (1980), ternyata berkaitan dengan penelitian otak dan memori saat ini. 

Fotografi dapat menjadi media katarsis, yakni pemicu dari emosi dan ingatan yang selanjutnya dapat membawa ke pikiran dan peristiwa masa lalu. Fotografi membangun versi visual dari realitas, termasuk bentuk visual dari rasa sakit, emosi, pengalaman, dan pemikiran. 

Pakar dari phototherapeutic: Judy Weiser, seorang psikolog, art therapist dan seorang fotografer, dalam tulisannya pada tahun 1993 mengatakan bahwa Foto yang diambil adalah jejak kaki dari pikiran kita, cerminan dari hati kita, ingatan beku yang bisa kita pegang dalam diam di tangan kita—selamanya, jika kita ingin. Foto tersebut tidak hanya mendokumentasikan dari mana saja kita berada, tapi juga menunjukkan ke arah mana kita menuju, entah kita sudah mengetahuinya atau tidak. Fotografi adalah bentuk visual simbolik lintas hidup seseorang. 

Secara definisi, Phototherapeutic sendiri adalah penggunaan fotografi yang bertujuan untuk penyembuhan dari depresi, kegelisahan, trauma, sakit kronis, penerimaan diri, dan hal lainnya, baik yang dilakukan secara sadar ataupun tidak. 

Praktek dan teknis Phototherapeutic bisa dilakukan oleh siapa saja, bisa individu maupun berkelompok dengan pembimbing yang mengetahui tentang foto terapeutik, walaupun bukan oleh ahli terapis. 

Phototherapeutic oleh Weiser, dapat dilakukan melalui : 1) Foto Proyeksi acak, 2) Potret Diri, 3) Foto Klien yang diambil oleh orang lain, 4) Foto yang diambil atau dikumpulkan oleh klien dan 5) Album Keluarga dan Autobiografi lainnya. 

Phototherapeutic memungkinkan untuk melihat lebih dalam dan lebih memperhatikan apa yang kita dengar, rasakan, pikirkan, lihat, dan sulit diungkapkan dengan media foto, bahkan hingga bisa mendiskusikannya. 

Phototherapeutic memberikan kesempatan untuk menciptakan sesuatu, membantu dalam mengeksplorasi identitas diri, serta memungkinkan untuk membangun interpretasi yang lebih mendalam terhadap diri sendiri, serta bisa membaginya dengan orang lain. 

Foto : @_syafin

Teks : @graceanata

Comments

Popular posts from this blog

KURASI, KURATOR DAN KURATORIAL (Curation, Curator and Curatorial)

Self Portrait (Potret Diri) sebagai Representasi Objektif Diri

Photography : Protest Visual dan Visual Protest