SPIRIT LOCAL GENIUS DALAM KARYA FOTOGRAFI

 


SPIRIT LOCAL GENIUS DALAM KARYA FOTOGRAFI

Oleh:

Asep Deni Iskandar

 

 

Pendahuluan

Cara penggambaran dan pengolahan karakter pada berbagai  media rupa, seperti; fotografi, lukisan, iklan, film atau animasi, saat ini berpijak pada satu mahjab yang datang dari Barat. Cara penggambaran yang berasal dari Barat ini menggunakan sistem naturalis-perspektif-moment opname (NPM). Cara menggambar naturalis-perspektif-moment opname yang berkembang sejak jaman Renaisans, kemudian mengglobal ke seluruh dunia pada jaman kolonialisme. Pengaruhnya semakin menjadi, ketika ditemukan dan berkembangnya kamera fotografi. Begitu kuatnya pengaruh cara menggambar dari Barat, sehingga dianggap satu-satunya cara menggambar yang berlaku, termasuk di Indonesia. Celakanya masyarakat kita menerima begitu saja, termasuk pendidikan di sekolah atau akademis pun hanya mengajarkan cara menggambar NPM.

Masyarakat di negeri ini, pada akhirnya menjadi terbiasa dengan memandang gambar hanya dari satu arah. Citraan yang dihasilkan dengan menggunakan sistem naturalis-perspektif-moment opname, seperti gambar-gambar yang direkam oleh kamera (fotografi) yang menyajikan sebuah adegan berupa gambar mati (still picture). Gambar mati mempunyai keterbatasan dalam hal penyajian visual, hanya mendeskripsikan apa yang dilihat oleh kasat mata, sehingga dimensi waktu dimatikan (Mutiaz, 2009: 38). Pada media foto misalnya, peristiwa tabrakan di suatu tempat yang ditampilkan dalam satu bingkai, tidak dapat menceritakan secara lengkap. Gambar hanya menyajikan posisi kendaraan dengan korban, sementara tempat dan waktu peristiwa diceritakan dalam keterangan berupa tulisan (caption).

Peristiwa yang banyak sebenarnya dapat diceritakan dalam satu bingkai gambar. Cerita yang tersaji berupa tulisan dimasukan pada satu bingkai foto dengan cara pengunaan lapisan latar, walaupun dalam foto berita hal tersebut dianggap tabu. Pada karya foto dengan gaya visual lain seperti foto seni atau pemenuhan iklan, foto-foto yang menggambarkan beberapa citra dengan pola lapisan latar (layers system) bisa dianggap wajar.  Citraan yang dihasilkan bagi yang terbiasa dengan sistem NPM masih dianggap aneh dan banyak diperdebatkan di kalangan fotografer sendiri. Penolakan masih terjadi terutama penggiat fotografi yang masih beranggapan bahwa karya foto yang baik dihasilkan oleh kamera langsung.  Bahkan, pada awal kemunculan karya-karya fotografi yang dihasilkan dengan olah digital dengan piranti lunak (software), dianggap bukan karya fotografi. Penolakan pun dimunculkan dengan adanya pemisah antara fotografer dan fotoshopher. Padahal jauh sebelum kehadiran piranti lunak, para fotografer sendiri telah membuat karya fotografi dengan cara yang sama dengan apa yang dibuat dengan olah digital. Banyak fotografer membuat karya foto berupa kolase, montase, atau terpaan berganda (multiple  exposure) yang memperlihatkan suatu objek dalam ruang dan waktu yang berbeda. Jaman kamera analog, para fotografer pun tidak sedikit yang mengolah gambar dengan cara multiple print di kamar gelap. Teknik yang digunakan oleh para fotografer merupakan suatu upaya untuk menceritakan banyak kejadian yang dialami oleh manusia saat itu.

Cara menggambar yang mengungkap banyak peristiwa atau penggunaan lapisan latar, sebenarnya telah ada jauh sebelum dikenalnya sistem menggambar naturalis-perspektif-moment opname (NPM). Cara menggambar tersebut merupakan cikal bakal penggambaran yang berlaku, namun telah dilupakan oleh sebagian besar masyarakat karena tergerus oleh sistem NPM yang dianggap modern. Sistem menggambar tersebut diperkenalkan oleh Tabrani (2012: 13) dengan istilah ruang-waktu-datar (RWD). Gambar yang dihasilkan, selain menggambarkan banyak peristiwa juga memperlihatkan penggambaran desain karakter yang sangat kuat. Sistem menggambar RWD telah digunakan oleh nenek moyang di negeri ini dalam berbagai media. Salah satu artefak masa lalu masih dapat dilihat pada relief candi, seperti relief cerita Kresnayana di komplek candi Prambanan. Relief cerita Krisnayana yang berjumlah 30 panel yang terterakan di pagar langkan candi Wishnu. Pada setiap panel relief dapat dilihat cara pengambaran atau desain karakter yang bisa dianggap aneh oleh orang yang biasa melihat gambar naturalis-perspektif-moment opname. 

 



 

Gambar 1. Gabungan sifat NPM dan RWD dalam gambar kontemporer. Foto yang dibuat oleh Christian Schloe, memperlihatkan objek perempuan dan kupu-kupu digambar NPM, namun objek kupu-kupu digambar lebih besar daripada tubuh perempuan, cara gambar tersebut adalah cara RWD.

 

Berkembangnya dua sistem menggambar yang ada dan dipergunakan oleh masyarakat, bukan untuk diperdebatkan mana yang lebih baik. Adanya dua sistem menggambar tersebut, seharusnya memunculkan inovasi pada karya rupa dengan menggunakan berbagai media. Cara penggambaran atau desain karakter pada relief cerita Kresnayana candi Prambanan, sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk membuat karya baru, bisa juga menjadi gaya baru pada karya yang dibuat. Jika dilihat pada karya fotografi, sebenarnya telah menggunakan teknik menggambar yang tertoreh pada relief cerita Kresnayana candi Prambanan. Memadukan beberapa adegan (layers system) atau citra dalam satu panel relief, bagi para fotografer bukanlah hal yang rumit, apalagi dengan kemunculan piranti lunak (software). Dapatlah dikatakan, teknologi terbarukan saat ini dapat melakukan teknik penggambaran seperti pada relief cerita Krisnayana. Kombinasi NPM dengan RWD secara intuitif telah muncul juga pada karya seni rupa populer dan kontemporer (Tabrani, 2009: 5, Setiawan, 2009: 3).

 

Cara penggambaran relief sebagai model pada karya fotografi

Berkembangnya dua sistem menggambar di masyarakat seharusnya bukan menjadi dikotomi. Kedua sistem menggambar (NPM & RWD), sama baiknya dan dapat melengkapi dalam pembuatan karya fotografi, bahkan bisa menjadi karya baru. Picasso misalnya menggambil citraan primitif yang kemudian menjadi bentuk baru dalam seni lukis yang dikenal dengan surealis (Iskandar, 2015: 503). Pada karya fotografi penggambaran gabungan NPM dan RWD sudah lama dilakukan, seperti dapat dilihat pada karya fotografi yang dibuat oleh Christian Schloe (lihat gambar 1).  Karya fotografi seperti yang dibuat oleh  Schloe, sebenarnya sudah dilakukan sejak lama dan dikerjakan secara manual. Hannah Hoch dan Raoul Hausmann pada masa perang dunia I (1916-1920) menjadi pelopor dalam pembuatan foto montase. Foto montase yang dibuat mereka bersamaan dengan gerakan dadaisme di negara netral, yaitu Zurich dan Switzerland.  Hoch dan Hausmann memrotes keadaan sekitarnya lewat karyanya yang menihilkan kukum-hukum keindahan yang ada dan menambahkan unsur rupa yang tidak lazim. Gerakan dadaisme terjadi juga pada seni visual, sastra (puisi, pertunjukan seni, teori seni), teater dan desain grafis. Gerakan ini menjadi cikal bakal terjadinya perubahan dan memunculkan gerakan lainnya, seperti avantgarde, gerakan musik kota, serta kelompok lain seperti surealisme, nouveau réalismpop art dan fluxus. Dalam ranah fotografi, karya foto montase mengilhami para fotografer dalam pembuatan karya yang dijadikan media propaganda.  



 Gambar 2. “Dewi”, Fotografer: Anton Ismael, 2006

Seiring dengan kemajuan teknologi kamera fotografi, penggambaran yang memadukan NPM dan & RWD telah banyak dilakukan oleh para fotografer. Teknik yang dilakukan dapat langsung dengan menggunakan kamera atau dilakukan pada saat proses pencetakan di kamar gelap. Kemunculan piranti lunak (software) untuk olah digital lebih gampang dilakukan dalam menyatukan berbagai citra dalam satu bingkai karya. Walaupun karya foto sering kita ditemui, namun lebih banyak memperlihatkan unsur keindahannya (seperti tampak pada gambar 6). Bahasa rupa yang memperkuat gambar dalam mengungkap cerita terabaikan bahkan tidak digunakan. Kelebihan dari sistem menggambar RWD dalam hal mengungkap cerita yang ditunjukkan dengan penggambaran kesan ruang, kesan ruang dan waktu, kesan gerak, dan kesan penting. Dengan demikian, diperlukan sentuhan cara menggambar RWD agar dapat mengungkap cerita. Cara menggambar RWD seperti  pada relief cerita Kresnayana candi Prambanan dapat dijadikan model dalam pembuatan karya fotografi. Sebagai contoh dapat dilihat pada panel relief nomer 7. 




 

Gambar 3. Panel relief nomer 7, relief  cerita  tentang Kresna dan Balarama dianiaya oleh Pralamba, Kresna dan Balarama membunuh Pralamba (Hermanu, 2012: 76). (Foto relief: Asep Deni, 2018)

 Cara menggambar panel relief 7 ini hampir sama dengan panel relief 10 (lihat gambar 3), menggunakan cara kembar pada objek. Pada  panel relief, terlihat semua objek diatur komposisinya sedemikian rupa agar semua bisa diceritakan dalam satu panel. Visualnya memperlihatkan semua bidang gambar (panel relief) terisi penuh oleh objek. Tidak ada sedikit pun bidang yang tersisa. Bagi orang yang terbiasa dengan NPM, visualnya bisa jadi dianggap naif atau absurd. Penyusunan tiap objek sebenarnya tidak sekedar menumpuk, tetapi para pemahatnya ingin menceritakan banyak peristiwa pada setiap latarnya. Objek-objek di bagian belakang (sapi) digambar dengan cara digeser ke atas, supaya nampak semuanya. Latar yang ada di belakang tersebut sebenarnya diceritakan terlebih dahulu, kemudian cerita berlanjut ke latar yang di depan. Sapi dalam cerita ini, merupakan penjelmaan Pralamba. Pralamba dalam bentuk aslinya (di bagian depan) menganiaya Kresna. Posisi  Pralamba yang menganiaya Kresna berada di sebelah kiri panel. Cerita selanjutnya berada di tengah ketika Kresna dan Balarama melawan dan membunuh Pralamba. Di sebelah kanan Pralamba yang berwujud sapi terlihat terkulai. Dari cara menggambar tersebut, tentunya menjadi jelas bahwa dalam satu panel relief terdapat beberapa adegan cerita dan beberapa tokoh digambarkan berulang kali. Cara menggambar pada relief ini sebenarnya hampir sama dengan cara yang kerap digunakan dalam olah digital. Kesamaan yang dimaksud penyusunan beberapa objek yang terpisah yang dipadukan dengan pola lapisan latar.

Cara kembar yang digunakan pada panel relief dimaksudkan untuk memperlihatkan kesan atau ciri gerak pada suatu objek. Cara kembar ini sebenarnya dalam bidang fotografi bukanlah hal yang baru. Praktik pemanfaatan cara kembar atau istilah pada cara menggambar modern disebut imaji jamak, sering digunakan, misalnya dalam fotografi sekuen (sequence photography). Fotografi sekuen merupakan teknik pemotretan yang digunakan untuk mencapai citraan yang menggabungkan keselarasan atau objek yang disengaja diciptakan secara berurutan. Objek yang direkam secara berurutan ini secara visual akan terlihat bergerak dengan ruang dan waktu yang berbeda. Kesan gerak yang dibentuk dengan cara kembar atau teknik fotografi sekuen dapat dilihat pada gambar 4. Kesan gerak diperlihatkan sangat jelas pada objek yang sama, mulai dari sebelah kanan sampai mendarat. Hal tersebut sangat berbeda dengan foto bertajuk Dewi yang dibuat oleh Anton Ismail (lihat gambar 2). Foto tersebut memperlihatkan berbagai pose seorang model dengan kostum yang berbeda, namun kesan gerak tidak terlihat jelas. Kesan gerak pada foto bertajuk Entity Boardshop” sangat terlihat pada perubahan gestur (menunjukkan ruang dan waktu berbeda), dan cara kembar ditampakan pada pakaian dengan asesoris yang sama. Foto tersebut menegaskan bahwa ciri gerak akan nampak dengan penggambaran cara kembar, bukan dengan berbagai pose dengan kostum yang berbeda.



 Gambar 4. Entity Boardshop, Jeff Jensen. (sumber: www.hongkiat.com)

 Foto yang dibuat oleh Jeff Jensen, merupakan salah satu teknik penggambaran yang dilakukan dalam karya fotografi. Pembahasan dalam tulisan ini, tidak akan membahas persoalan teknik pembuatan, agar tidak terjebak pada  persoalan teknik. Menarik dari foto tersebut adalah kemampuan Jeef Jensen dalam merekam objek yang sama dihadirkan dalam satu bingkai (frame). Penghadiran objek yang sama yang berubah dari waktu ke waktu menjadikan gambar terasa adanya gerakan. Kesan gerak dalam fototografi sekuen, walaupun secara penggambaran hampir sama dengan relief tetapi kekuatan cerita belum terasa. Sebagai perbandingan diperlukan contoh karya fotografi lain agar dapat dilihat perbedaannya. Perbedaan yang nampak terutama dalam hal suguhan cerita dalam gambar.  Karya foto yang memperlihatkan suguhan cerita dapat dilihat pada   gambar 5.


 

                                              Gambar 5. Imaji jamak dalam karya fotografi

(Fotografer: Mark Nazaroff, untitle, 2009, Sumber: http://www.photocontest)

 Foto di atas memperlihatkan empat orang yang sedang bermain poker, dengan tumpukan uang di atas meja. Kalau foto dilihat hanya sekilas tentunya lita hanya melihat empat orang yang berbeda sedang berjudi. Namun kika diperhatikan, keempat orang yang sedang berjudi tersebut, adalah orang yang sama dengan gestur dan ekspresi wajah yang berbeda-beda. Seperti telah diungkap, penggambaran empat orang yang sama dalam satu bidang gambar dilakukan dengan cara kembar dalam sistem menggambar khas atau imaji jamak dalam sistem menggambar NPM. Penghadiran dan penataan setiap objek dalam selembar karya foto tersebut sangat apik dan memperlihatkan kekuatan cerita. Cerita yang disajikan dengan ekspresi  wajah dan gestur para pemain, ditambah lagi dengan orang membelakangi kamera yang bermain curang. Unsur cerita pada karya foto yang dibuat oleh Nazaroff tentunya sangat terasa dibandingkan dengan karya yang dibuat oleh Jeff Jensen. Penggambaran cara kembar atau imaji jamak, seperti pada karya Nazaroff tentunya tidak sulit dilakukan di era sekarang. Kemunculan perangkat lunak seperti adobe photoshop untuk olah digital akan memudahkan dalam membuat karya seperti itu.

 

Simpulan

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa seni rupa tradisi (RWD), seperti terpahatkan pada relief cerita Krisnayana candi Prambanan mempunyai kekhasan sendiri. Dengan keterbatasan media, para pemahatnya dapat menyajikan banyak cerita dalam satu panel, walaupun dianggap aneh. Sistem menggambar RWD yang sebenarnya berkembang di seluruh dunia, tentunya sangat berbeda dengan cara menggambar modern dari Barat dengan sistem NPM. Sayangnya sistem menggambar RWD tergeser oleh NPM dari Barat karena dianggap lebih modern, bahkan dianggap satu-satunya sistem menggambar yang berkembang di dunia. Masyarakat di negeri ini pun pada akhirnya meninggalkan sistem menggambar tradisi sebagai warisan nenek moyang. Lebih celaka lagi, anak-anak yang sebenarnya mempunyai kemampuan cara menggambar RWD dianggap salah oleh orang dewasa yang mengenal NPM.

Sistem menggambar RWD yang artefaknya dapat dilihat seperti di relief cerita Krisnayana, setidaknya menjadi gambaran bahwa sistem menggambar NPM dari Barat bukanlah satu-satunya yang berlaku. Kedua sistem sama baiknya jika diterapkan dan dibutuhkan untuk masa kini dan mendatang. Keduanya  dapat dipadukan menjadi sebuah karya atau gaya baru, bahkan dapat menjadi ciri khas seni rupa Indonesia. Secara intuitif, sadar atau tanpa sadar, sebenarnya penggabungan dua sistem menggambar banyak bermunculan seperti pada karya fotografi (lihat gambar 8 dan 9) dan media lainnya. Iklan televisi misalnya, dapat kita saksikan  penggunaan sistem menggambar RWD yang berpadu dengan NPM, seperti model Ira Wibowo yang digambar dengan cara kembar sedang mengepel lantai. Pada media lukisan dapat dilihat pada karya yang dibuat Iweng, Dede Eri Supria, atau lukisan di daerah Kamasan Bali.

Karya-karya fotografi yang menjadi contoh dan dianalisis dalam penelitian ini, setidaknya membuka cakarawala bagi para fotografer, khususnya dalam hal perupaan. Pandangan terhadap foto yang baik itu dihasilkan dengan kemera yang digunakan dan persoalan teknik jangan lagi dipersoalkan. Sudah saatnya para fotografer menggunakan bahasa rupa pada setiap karyanya agar bisa bercerita dan menyampaikan informasi. Dengan demikian, karya yang dihasilkan tidak hanya memperlihatkan keindahan semata dan banyaknya pengulangan pada karya yang dihasilkan. Penggunaan bahasa rupa pun dapat mewarnai keragaman bentuk visual atau gaya perupaan pada media fotografi.   

Relief cerita Krisnayana candi Prambanan hanyalah salah satu contoh artefak senirupa tradisi. Masih banyak artefak warisan nenek moyang kita yang masih dapat digali. Penggalian artefak masa lalu harus dilakukan oleh kita sebagai generasi yang diwarisinya. Jangan sampai penggalian artefak tersebut dilakukan oleh orang luar yang lebih tertarik ketimbang pewarisnya yang sudah melupakannya. Fenomena tersebut terus terjadi, ketika masyarakat di negeri ini melupakan tradisi maka orang luar berdatangan meneliti dan mengembangkannya menjadi gaya baru. Masyarakat kita pada akhirnya menggunakan temuan mereka.  Dengan tergalinya artefak masa lalu oleh generasi penerusnya, setidaknya dapat membangun wacana budaya dan memberi makna dalam kerangka pencarian harkat asali (local genius).

 

 

 

Daftar Pustaka

Hermanu,  Relief Ramayana Candi Prambanan, 1926 – 2012, Yogyakarta: Bentara Budaya, 2012.

 

Iskandar, Asep Deni, Peranan Bahasa Rupa dalam Pembelajaran Fotografi, Seni Rupa dan Desain, Prosiding Seminar Nasional, Universitas Negeri Surabaya, 2015.

 

Mutiaz, Intan R., Cara Wimba dan Tata Ungkap Bumper MTV: Sebuah Kajian Bahasa Rupa Media Rupa Rungu Dinamis, Jurnal Komunikasi Visual “Wimba”, Institut Teknologi Bandung, Vol. 1 No. 1, 2009.

 

Sedyawati, Edi, Budaya Indonesia: Kajian Arkeologi, Seni, dan Sejarah, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006. 

Setiawan, Pindi. The Signification of Nyeni : Tanda Gambar dalam Komunikasi Rupa, Jurnal Komunikasi Visual “Wimba”, Institut Teknologi Bandung, Vol. 1 No. 2, 2009.

Tabrani, Primadi. Wimba, Asal Usul dan Peruntukkannya. Jurnal Komunikasi Visual “Wimba”, Institut Teknologi Bandung, Vol. 1 No. 1, 2009.

 

Comments

Popular posts from this blog

KURASI, KURATOR DAN KURATORIAL (Curation, Curator and Curatorial)

Self Portrait (Potret Diri) sebagai Representasi Objektif Diri

Photography : Protest Visual dan Visual Protest