CENGKRAM KOLONIALISME DALAM FOTOGRAFI


CENGKRAM KOLONIALISME  DALAM FOTOGRAFI

 

Kolonialisme secara jajahan sudah lama lenyap. Tetapi, sampai saat ini masih ada pengaruh kolonialisme yang masih mencekram dalam praktek fotografi.  Fotografi adalah senjata pada era kolonial dan dipakai hingga sekarang dengan keperluan yang lain. Sesuai semangat kolonialisme, fotografi pertama kali masuk  kesini (belum bisa menyebut Indonesia) untuk mendokumentasikan dan mempelajari semua hal. Hadir dua tahun setelah kamera Daguerreotype ditemukan. Dieksploitasi secara subjek dibalik diksi “eksotisme’ tanpa kuasa untuk melawannya. Ini dikarenakan hampir 100% tidak adanya fotografer pribumi pada saat itu, Kemudian hadir Cephas sebagai fotografer pribumi pertama yang menurut saya secara visual karyanya menyelipkan rasa ‘nasionalisme’, tetapi disisi dipertanyakan pula rasa ‘nasionalisme’ nya (dua asumsi ini perlu diriset lebih lanjut kebenaranya). Dimasa revolusi kemerdekaan, kamera  merupakan alat penting dalam perjuangan kemerdekaan. Fotografer memanfaatkan kamera dan menggunakan fotografi untuk menyatakan suara perjuangan melawan kolonialisme. Disini fotografi tampil secara heroik. Sampai pada saat IPPHOS ‘dimatikan’ secara politis di awal orde baru.

Faktor politis nampaknya memegang pengaruh dalam menyuburkan praktek ‘kolonialisme’ dalam fotografi.  Tepatnya bagaimana mereka mempertahankan pengaruh hegemoni fotografi disini, lebih luas lagi di kawasanan Asia Tenggara. Bentuk kolonialisme dalam bentuk yang berbeda. Tidak nampak secara gamblang tapi bisa kita rasakan prakteknya. Salah satu contoh yang paling nyata bisa kita liat dalam penyelenggaraan festival foto di Asia Tenggara, hegemomi itu nampak. Tamparan keras yang tidak membuat kita bangun dan harus jujur kita mengatakan bahwa harus berterima kasih kepada praktek ‘kolonialisme’ yang membantu ‘mengisi’ kekosongan perkembangan fotografi di Indonesia. Tanpa mengenyampingkan peran berbagai pihak dalam upaya mengembangkan fotografi, tetapi letupan itu masih sangat kecil, belum bisa menandingi ‘hegemoni’ itu. Karena ‘tidur’ panjang kita, sekarang berada pada masa masih membutuhkan tenaga ahli maupun ‘sumber daya’ dari luar. Kalau kita ‘cerdas’ hal ini bisa  menguntungkan asal datang ‘inisiatif’ dari kita. Ketika kita mau melihat ke sejarah fotografi kita, sebenarnya sudah diberikan contoh pada masa pendudukan jepang. Dimana warga pribumi dikasih kesempatan menjadi fotografer dan kemudian keahlian itu dipakai sebagai senjata lain untuk ‘berperang’ melawan kolonialisme.

Tapi kita nampaknya menikmati dininabobokan sehingga terlena dalam buaian cengkram ‘kolonialisme’. Suatu bahaya yang tidak disadari atau memang tidak mau menyadari. Dampaknya mau tidak mau harus kita nikmati dan menyaksikan (dalam ketiduran) bagaima  identitas budaya fotografi kita semakin kabur. Dan secara personal menyebabkan inferioriteitscompex, rasa tidak percaya diri. Menganggap sesuatu cita rasa yang berbau ‘international’ lebih superior dari yang ‘lokal’. Sehingga abai dalam menemukan jatidiri dan budaya visualnya sendiri. Kita boleh iri dengan ‘perkembangan’ fotografi di negara-negara Asia Timur bagaimana mereka berusaha untuk membentuk budaya fotografinya. Kelihatan nyata bagaima karakter dan konsesi fotografi mereka. Tapi kita harus bersyukur semangat solidarisme merdeka secara visual mereka sudah mulai ditanggkap oleh pelaku fotografi. Kita jangan malu untuk belajar dari mereka. Semangat merdeka secara visual perlu terus digelorakan ke seluruh penjuru negeri menjangkau sebanyak mungkin insan fotografi. Biar kita cepat ‘SADAR’.

Perlu ‘etalase’ untuk menunjukan jati diri fotografi kita dan keluar dari berbagai kepentingan luar. Lalu bagaima melawan kolonialisme dalam fotografi dan melepaskan diri dari cengkramanya. Kuncinya adalah memupuk kemandirian dalam berbagai hal. Sehingga bisa melepaskan ketergantungan terhadap sumber dari luar. Mulai menciptakan kesetaraan dalam berkolaborasi. Perlu inisiatif yang progresif dan revolusioner untuk segera keluar dari situasi saat ini. Menumbuhkan rasa percaya diri kembali. Dan perlunya gotong royong dari semua pemangku kepentingan fotografi untuk duduk bersama memikirkan tentang konsesi fotografi Indonesia. Langkah kecil itu dulu yang perlu perlu kita lakukan, dimulai dari kesadaran pribadi kemudian kesadaraan kolektif. Sehingga kita segera bisa fasih menyebutkan fotografi Indonesia adalah ..........

Salam merdeka!


 

Comments

Popular posts from this blog

KURASI, KURATOR DAN KURATORIAL (Curation, Curator and Curatorial)

Self Portrait (Potret Diri) sebagai Representasi Objektif Diri

Photography : Protest Visual dan Visual Protest