ORANG BODOH DILARANG MENGKRITIK

 


ORANG BODOH DILARANG MENGKRITIK

 

Pendapat tentang kritik fotografi dari orang bodoh.

Kritik berdasarkan penelusuran di google, maka akan ditemukan pengertian kritik dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Kri.tik n kecaman dan pertimbangan baik buruk terhadap hasil karya, pendapat, dan sebagainya. Cukup kita pakai pengertian kritik dari KBBI biar tidak dibikin rumit dan penuh ‘bahasa jorok’.

Memposisikan dan melihat kritik di dunia fotografi indonesia diibaratkan sebagai titik kecil di dalam bulatan besar yang kita namakan ‘ekosistem’ (yang juga belum bisa dikatakan utuh) fotografi, ekosistem yang bisa dikatakan masih ‘numpang’ di seni rupa. Sudah titik kecil, ‘diposisikan’ susah dijangkau pula. Ini penyebab salah kaprah tentang kritik, dimana yang terjadi hanya dimaknai kritik sebagai kecaman tanpa analisa yang obyektif dan cenderung menyerang personal bukan konteks. Kritik juga bisa menjadi value yang bagus ketika karya atau seniman itu memang bagus. Peran ini yang tidak disadari karena salah kaprah itu.

    


(Pameran Komik Fotografi Sesat “Balada Tukang Kaos”, Rumah IPA, 2019)

Orang yang mengkritik yang kita sebut pengkritik atau bahasa kerennya kritikus. Kalau kita tempatkan dalam piramida pelaku ekosistem fotografi  posisinya ada dipaling atas. Cukup prestisus posisinya, tapi ini yang membuat tidak ada yang berani menyebut dirinya sebagai kritikus. Kalaupun ada pasti masih ‘malu-malu’ ataupun kritikus yang salah kaprah. Seorang kritikus memang harus memiliki pengetahuan yang mumpuni , menguasai teori-teori (saya menyebutnya bahasa jorok) , dan update terhadap perkembangan fotografi secara global serta isu-isu di luar fotografi. Makanya tidak sembarangan orang yang bisa disebut kritikus dan ‘orang bodoh’ seperti saya yang tidak menguasai ‘bahasa jorok’ memang tidak boleh mengkritik. Kalau bicara di tataran gagasan dan estetis.

Mungkin hanya khayalan belaka melihat serunya adu sakti antar kritikus saling mengeluarkan keilmuannya. Adu dalil dan ‘bahasa jorok’. Adakalanya ‘bahasa jorok’ itu perlu dikritisi karena bukan sebagai sebagai dalil pembenaran yang mutlak. Biarpun kadang  kegaduhan itu hanya intrik untuk menaikkan sesuatu. Di fotografi Indonesia butuh keributan dan kegaduhan yang bermutu. Biar BANGUN. Atau memang khayalan ini tidak pernah terwujud karena tidak adanya bahan untuk dikritik.

Melihat langka nya kritikus fotografi, boleh kiranya kita mempertanyakan peran institusi pendidikan formal fotografi yang seyogjanya bisa diandalkan untuk memproduksi kritikus-kritikus yang mumpuni. Ini menandakan pentingnya kritik belum disadari atau menjadi perhatian. Lantas kita mengandalkan siapa untuk menjadikan orang ‘pintar’ yang mampu menjadi kritikus. Walaupun ada kritikus yang belajar secara otodidak.

Lalu bagaimana orang bodoh seperti saya bisa mengkritik. Di tataran gagasan dan estetis dipastikan tidak bisa (tau diri). Di tataran praktik fotografi ini celah yang bisa dijadikan arena bermain kritik. Tidak pintar bukan berarti tidak cerdas. Ingat hanya orang bodoh bisa benar-benar punya pemikiran yang brilian. Cerdas bermain di rana kritik yang tepat akan menghasilkan pengaruh yang lebih besar dan tepat sasaran. Di sini kritik tanpa solusi akan jadi omong kosong belaka.

Mari bicara kritik di tataran grassroot. Anggap saja ini sebagai suudzon (berprasangka buruk) dan mudah-mudahan tidak benar. Kritik ‘dikesankan’ sebagai sesuatu yang menyeramkam dan untuk kalangan elitis saja, kalangan galeri atau kalangan akademis (ini yang masih bisa perdebatkan). Lalu di tataran grassroot tidak boleh mengerti dan menikmati kritik. Boleh dong. Nah ini waktunya orang bodoh seperti saya beraksi melancarkan kritik. Karena apa, orang bodoh punya tindakan cerdas untuk mengambil resiko, bertindak tanpa berpikir. Ini kebalikan dari kalangan kritikus elitis yang tidak boleh mengambil resiko untuk salah, karena akan berbalik ke dirinya.

Di kalangan yang berjumlah mayoritas ini, bagaimana mengolah sebuah kritik yang mudah dimengerti dan dicerna.  Apa gunanya suatu yang terlihat pintar tapi tidak dimengerti. Harus punya penanganan yang berbeda di setiap medan kritik. Kritikus yang cerdas harus mampu menurunkan gradenya menyesuaikan siapa kalangan yang dihadapi. “Jebak” meraka dalam tataran  gampang dulu  kemudian dijebloskan ke tataran yang rumit. Karena fotografi itu ‘menjebak’ dan ‘membunuh’. Niscaya budaya kritik akan menggeliat dan membara di kalangan grassroot. Sehingga kritik yang bermartabat bisa untuk kalangan manapun.

Satu lagi yang perlu diperhatikan, bagaimana cara mengkritik kaum ‘baperis’ yang juga mendominasi jagat perfotografian di tanah air. Pilihan menjadi antagonis, bukan pilihan yang tepat. Kebayangkan bagaimana berisik dan baper nya (dibayangkan saja, tidak usah saya detailkan tulisannya). Cara yang terbukti ampuh adalah mengkritik dengan ceria alias bagaimana mengemas sebuah kritik dalam kemasan yang menyenangkan. Sehingga meraka tanpa sadar akan menertawakan dirinya sendiri. Istilahnya menggetok tapi tidak berdarah. Dijamin akan damai sejahtera tanpa berisik. Ini tips sesat tapi manjur (contohnya  kita bahas dilain waktu, nanti dikira narsis dan memanjang-manjangakan tulisan).

                     


Tidak usah panjang-panjang tulisannya. Nanti makin ngaco dan kelihatan bodohnya. Tapi ingat jangan remehkan orang bodoh dalam jumlah banyak. Begitulah kritik-kritik.

Ditulis dengan sadar oleh Wahyu Dhian yang tidak anti dikritik.



Nb : kritik boleh nyinyir jangan.

Comments

Popular posts from this blog

KURASI, KURATOR DAN KURATORIAL (Curation, Curator and Curatorial)

Self Portrait (Potret Diri) sebagai Representasi Objektif Diri

Photography : Protest Visual dan Visual Protest