Fotografi sebagai Media Propaganda

 


Fotografi Sebagai Media Propaganda

Oleh : Asep Deni Iskandar

 

Realisme dalam ranah seni rupa telah dikenal masyarakat dan digunakan oleh para seniman sejak berabad-abad. Gaya realis dalam lukisan berhubungan dengan kelugasan isi pesan sehingga misi dan visi para seniman mudah dipahami yang melihatnya. Jika masyarakat dapat mencerna dengan lebih mudah, maka karya seni menjadi bahasa visual yang dapat digunakan oleh para seniman untuk menggugah massa agar sadar bahwa dirinya tertindas dan mendorong untuk melawan. Media perlawanan yang acapkali dalam fotografi disebut media propaganda telah banyak digunakan oleh para seniman fotografi pada awal abad ke-20.

Fotografi sebagai media propaganda seolah telah menjadi baku kemudian berdiri sendiri dan tidak disangkutpautkan dengan gaya atau aliran realisme seperti halnya dalam ranah senirupa. Pandangan tersebut ditegaskan oleh Feininger bahwa “fotografi ialah pengungkapan penglihatan yang khas, tidak ada hubungannya dengan menggambar atau melukis, dan usaha apapun untuk menghubungkan dengan senirupa yang lain tidak ada gunanya”. Realis dalam fotografi dapat dikatakan adanya kesesuaian antara objek yang dipotret dengan citra yang tercetak dalam selembar kertas. Jika dilihat dalam konteks senirupa citra realis dalam fotografi akan menjadi berbeda karena kesesuaian realitas yang terekam oleh kamera merupakan citraan naturalis yang dianggap lebih alami. Antara naturalis dan realis nampak sama namun sebenarnya istilah tersebut mempunyai konotasi berlainan  dan dalam penggunaannya sering dipertukarkan. Citra realis dalam senirupa yang kemudian dalam keseharian sering digunakan dengan istilah realisme bukan hanya sekedar menangkap realitas namun suatu konsep yang dengan sadar ingin dicapai melalui karya seperti  yang dibuat oleh Millet, Coubert, Djoko Pekik, dan lain-lain.

Realisme yang dijadikan seniman sebagai media perlawanan seperti telah diungkap di awal mulai digunakan di Jerman bersamaan dengan munculnya gerakan dadaisme. Karya-karya aliran realisme fotografi (photographic realism) dipelopori oleh seniman fotografi Raoul Hausmann dari Austria dan Hannah Höch dari Jerman, merupakan reaksi atas terjadinya perang dunia I pada 1914-1918. Seperti halnya para seniman lukis beraliran sama, mereka berdua pun mempunyai kesamaan tujuan dalam melawan penindasan atas rakyat sebagai korban perang, mengangkat harkat dan martabat kaum buruh dan petani yang termarjinalkan, perlawanan terhadap imperialisme, dan menjadi kritik atas kebuasan kaum borjuis Barat.

Kemunculan realisme fotografi seiring ditemukannya teknik photo montage ketika Hausmann dan Höch ketika berlibur di laut Baltic. Photo montage merupakan penggabungan sejumlah citra yang pada awalnya terpisah tanpa ketiadaan makna, penuh dengan kebisuan, dan begitu dingin tatkala dipersatukan telah menyodorkan ikon baru. Sejak itu teknik photo montage banyak digunakan oleh para seniman fotografi lainnya dan menjadi aliran baru dalam bidang fotografi bukan hanya sebagai media ekspresi namun dijadikan media propaganda bahkan perlawanan terhadap rezim yang berkuasa. Kondisi rakyat yang tertidas dan kelakuan para penguasa yang menggunakan kekuasaan untuk kepentingan sendiri menjadikan inspirasi para seniman fotografi yang dituangkan dalam karya-karyanya. Kritik dan upaya penyadaran masyarakat  yang tertindas misalnya dapat dilihat pada karya fotografi yang dibuat Heinz Hazek-Helke bertajuk  Schandals”  yang dibuat pada 1932.

 



Gambar 2. Heinz Hazek-Helke, Schandals, 1932

(Sumber: Photo Montage, Michel Prizot, 1991)

 

Gaya dan perupaan seperti pada karya Heinz Hazek-Helke memang menjadi semacam mata rantai gerakan-gerakan perlawanan. Foto di atas memperlihatkan citraan baru bukan hanya menunjukkan keadaan yang diperlihatkan dengan citra mobil namun menjadikan kekuatan dalam bercerita sebagai sindiran atau mengungkap skandal yang dilakukan oleh anggota parlemen terhadap para wanita. Citra yang menjadi penanda skandal yang dilakukan terlihat pada tubuh wanita telanjang yang terlentang di jalanan layaknya tempat penyebrangan (zebra cross). Para anggota parlemen dengan pakaian-pakaian jas kebesaran sedang menginjaknya. Dengan menggambungkan gambar-gambar tersebut maka menjadi kesatuan cerita utuh dengan mengangkat tema tentang kelakuan para anggota parlemen yang dipenuhi skandal perempuan.

Karya-karya aliran realisme fotografi (photographic realism) selalu menggambarkan representasi realitas kehidupan atau peristiwa yang terjadi. Citraan realisme sebagai hasil dari rekaman langsung banyak digunakan di negara Sovyet pada 1920-an akibat terjadinya tekanan oleh pemerintah terhadap masyarakat termasuk para seniman. Di antara tokohnya adalah Alexander Grinberg, Yury Yeremin, Sergei Lobovikov, Vassily Ulitin, dan Anatoly Trapani, dan masih banyak lagi. Para fotografer Sovyet menggunakan karya-karyanya untuk perjuangan melawan sistem pemerintahan dan mendorong terjadinya revolusi Rusia. Citraan realis pada karya fotografi ternyata berpengaruh pada dunia luar di mana pada penghujung 1930-an orang-orang realisme sosialis yang sebelumnya tertekan merih kemenagnagn atas penindasan. Karya-karya yang dibuat oleh para seniman fotografi Sovyet sebagai bentuk perlawanan secara halus kemudian dikenal dengan gaya  pictorial  photography.

Di sisi lain rekaman realitas yang direkam langsung oleh kamera ternyata telah menggeser fungsi dari fotografi itu sendiri. Banyaknya peristiwa dan rakyat yang menjadi korban bukan lagi menjadi ekspresi para seniman fotografi dalam pembuatan karyanya. Realitas peristiwa yang terekam kemudian menjadi fotografi jurnalistik yang terpajang di media massa. Dengan kata lain, realisme fotografi bukan lagi menjadi media perlawanan yang penekanannya terletak pada perjuangan politik dan ideologi. Realisme fotografi agaknya telah terbatasi menjadi karya fotografi untuk kepentingan pemberitaan, walaupun citraannya tetap dapat menggugah kesadaran massa tentang ketertindasan dan mendorong untuk melawan. Fotografi yang dibuat Huy Chong Ut tentang kepanikan anak-anak atas peledakan bom telah memicu masyarakat Amerika sendiri terhadap pemerintah dalam menentang perang Vietnam.

 

Gambar 3. The Terror of War, 1973, Huy Chong Ut

(Sumber: http:www//wikipidea)

 

Bagi Huy Chong Ut peristiwa tersebut merupakan realitas bagaimana anak-anak dihantui perasaan takut dan perang yang menjadi teror. Peran Chong Ut hanyalah merekam peristiwanya kemudian mewartakan realitas kepada pemirsa. Kenyataan tersebut sulit untuk diterima tetapi realitas yang terekam merupakan bentuk ketakutan, jeritan, dan tangisan anak-anak yang tidak berdosa begitu memilukan dalam setiap peperangan. Ketika foto ini dimuat dalam media massa Chong Ut sendiri tidak mempunyai maksud lain kecuali hanya memperlihatkan pada publik. Adapun masyarakat Amerika sendiri yang kemudian terpacu untuk melakukan protes akan perang di Vietnam itu hanyalah akibat banyaknya korban yang terjadi dan pemberlakuan wajib militer. Foto seperti “Terror of  War hanyalah salah satu yang dapat menggugah empati massa tidak untuk kepentingan media perlawanan melainkan sebagai foto merdeka.

 Di Indonesia sendiri fotografi yang dimanfaatkan sebagai media propaganda digunakan oleh rezim Orde baru pasca peristiwa “G30S PKI” untuk menanamkan kebencian pada rakyat Indonesia atas bahaya laten komunisme. Foto-foto evakuasi mayat tujuh jenderal yang diangkat dari sumur Lubang Buaya bukan hanya sekedar foto berita namun selama rezim orde baru berkuasa dijadikan media perlawanan pada komunisme yang dianggap akan membahayakan integritas bangsa. Propaganda yang dilakukan tentunya dianggap berhasil dan terbukti dengan perlawanan dari masyarakat dengan munculnya komunitas-komunitas yang anti terhadap bentuk komunisme melalui spanduk-spanduk di jalanan, penolakan terhadap buku-buku yang beredar, atau terakhir penutupan tempat pembuatan film secara paksa oleh massa yang akan dibuat oleh Eros Jarot.

 Perkembangan fotografi di Indonesia jarang sekali memunculkan para fotografer yang menjadikan media fotografi sebagai ekspresi perlawanan. Bisa jadi ketiadaan tersebut berhubungan dengan pemahaman tentang ekspresi perlawanan yang dibatasi oleh politik atau masyarakat tertindas. Terlepas dari ketiadaan karya-karya yang dibuat oleh para fotografer ada hal yang menarik ketika di penghujung 1997 terbit buku bertajuk Menghadang Mentari Pun Tak Peduli. Buku tersebut berisi kumpulan foto yang dibuat oleh para pekerja seks komersial (PSK) yang tergabung dalam Bandungwangi sebagai organisasi PSK yang peduli AIDS. Semua PSK yang memotret tidak memahami teknik fotografi dan itupun sangat wajar karena belum memasyarakatnya kamera seperti era digital saat ini. Melalui karya foto mereka melakukan perang terhadap bahaya AIDS dan memperlihatkan keberadaan mereka kepada publik.

Apa yang dilakukan oleh para PSK tentunya akan berbeda dengan perjuangan para buruh dalam memperjuangkan hak-hak dari cengkraman para pengusaha. Perjuangan para buruh dijadikan wahana kreatif oleh Revitriyoso Husodo dalam bentuk buku bertajuk “The Art of Resistance”. Buku tersebut bukan hanya sekedar foto dokumenter aktivitas para TKI atau buruh migran Indonesia di Hong Kong saat melakukan aksi internasional memboikot World Trade Organization (WTO) tetapi semacam foto-foto pengenalan medan sebuah aksi. Berdasarkan observasi tersebut maka foto-foto penuh dengan simbol-simbol kekuatan yang menjadi musuh para buruh bukan hanya menggambarkan demonstrasi besar-besaran atau juga bentrok masa dengan aparat.

 







Gambar 4. Salah satu karya dalam buku

The Art of Resistensi (Foto : Revitriyoso Husodo)

 

 

Foto di atas sama persis isinya dengan karya yang dibuat di Prancis yang dipelopori Millet dan Coubert dengan mengangkat kaum buruh sebagai bagian masyarakat yang tertindas. Pada karya foto di atas ketertidasan kaum buruh diperlihatkan tidak secara gamblang namun fotografernya mampu menyuguhkan ketertindasan seorang buruh wanita yang seolah dicengkram oleh boneka syetan jahat dengan lidah menjulur bertuliskan WTO.  Boneka tersebut sebagai metafor dari World Trade Organization yang selama ini dianggap telah menindas kaum buruh. Melalui buku tersebut Revi berusaha menyuguhkan pembelajaran dari para buruh migran, mempelajari konsistensi perjuangan untuk kesejahteraan hidup, belajar menegakkan hak asasi, dan dapat dijadikan pembelajaran bagi pembacanya tentang penindasan terhadap kaum buruh dalam sistem kapitalis.

 

-----------

 

Rujukan

Feininger, Andreas. 1993. (terjemahan R. M. Soelarko), Unsur Utama Fotografi,  Semarang: Dahara Prize,

 

Mohamad, Gunawan. 1999. Tentang  Seni Rupa, Rakyat. dan Celeng. Katalog pameran Tanpa Bunga dan Telegram Duka. Yogyakarta: Bentara Budaya.

 

Soedarso Sp., 2006. Trilogi Seni: Penciptaan, Eksistensi, dan Kegunaan Seni, Yogyakarta: Institut Seni Indonesia.

Sumardjo, Jakob. 2000. Filsafat Seni. Bandung: Insitut Teknologi Bandung. 

Tamrin, Misbach. 2008. Amrus Natalsya dan Bumi Tarung, Bogor: Amnat Studio.

 

 

 


Comments

Popular posts from this blog

KURASI, KURATOR DAN KURATORIAL (Curation, Curator and Curatorial)

Self Portrait (Potret Diri) sebagai Representasi Objektif Diri

Photography : Protest Visual dan Visual Protest